Sedalamnya hatiku Kaupun tahu dan kasih Mu tak jauh dalam jiwaku Didalam kesesakan didalam kemenangan Ku tahu Engkau selalu bersama ku
Sedalamnya hatiku Kaupun tahu dan kasih Mu tak jauh dalam jiwaku Didalam kesesakan didalam kemenangan Ku tahu Engkau selalu bersama ku
Hanya Kau tempat ku berlindung Hanya Engkau lagu ku dan kekuatan ku Ijinkanlah kudatang menyembah membawa syukur ku
Sedalamnya hatiku Kaupun tahu dan kasih Mu tak jauh dalam jiwaku Didalam kesesakan didalam kemenangan Ku tahu Engkau selalu bersama ku
Hari ini, aku mendengar lagu karya Sidney Mohede ini terputar lagi di ponselku, setelah beberapa lama aku tak mendengarnya. Dalam sekejap aku tahu, Tuhan ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Ia pun seakan-akan membawa memoriku kembali ke masa-masa itu. Masa-masa yang kelam, yang kupikir tidak dapat kulewati. Masa-masa ketika Mama meninggal di bulan Desember 2010.
Sudah lewat 4 bulan sejak Mama pergi untuk selamanya. Dan aku masih ingat benar, bagaimana rasanya, bagaimana sakitnya, dan bagaimana hancurnya hatiku pada saat itu. Dan bagaimana aku berpikir bahwa mungkin, aku tidak akan dapat melalui semua ini. Bahwa aku sebaiknya berhenti, menyerah, dan menutup mataku terhadap kenyataan yang terlalu menyakitkan.
Dalam kehampaan yang terasa begitu sepi itu aku berkali-kali bertanya mengapa ini harus terjadi, dan karena aku tidak memperoleh jawaban yang cukup masuk akal, maka berkali-kali pula aku mengatakan kepada Tuhan, “Bapa, jika aku gagal melalui semua ini, aku harap Kau mengerti. Mungkin memang aku tidak cukup kuat untuk hal-hal seperti ini. Mungkin kau salah memilihku untuk situasi ini”. Aku berkata bahwa aku tidak sanggup, karena memang pada saat itu, terlalu banyak rasa sakit yang mengikuti kepergian Mama. Terlalu banyak ‘gempa’ susulan yang mengikuti gempa pertama. Jadi aku pikir, ini terlalu besar untukku, dan aku kira aku tidak siap untuk hal-hal yang seperti ini. Pada saat itu, aku pun berpikir sederhana. Kelihatannya aku harus bersiap-siap tinggal dalam gua kekelaman ini untuk seterusnya. Aku sebaiknya tidak membuat rencana masa depan, karena mungkin aku akan terdampar di sini selamanya. Pada saat itu, sebatas itulah harapanku. Mataku dibutakan oleh kedukaan, sehingga aku tidak dapat melihat Tuhan. Harapanku terlalu kecil dan semakin kecil jika dibandingkan dengan Tuhan yang besar.
Aku masih ingat, bagaimana pada masa-masa itu, lagu inilah yang terputar terus di telingaku dan berulang bait demi baitnya di dalam hatiku. Dan setiap kali lagu ini dialunkan, setiap kali itu juga aku merasa Tuhan ada di sana bersamaku. Ia berlutut di tanah yang lembab lalu duduk di sebelahku di dalam gua yang kelam itu. Tanah yang basah mengotori jubahNya, tapi Ia tak begitu peduli. Ia mengangkat wajahku yang bersimbah air mata dan dengan lembut berkata, “Aku ada di sini, Anakku, Aku ada di sini. I hear you, and I am with You. Karena itu kamu harus bisa, Aku tahu kamu bisa, karena Aku ada di sini. Aku tidak akan pergi, Aku akan duduk bersamamu di sini dan menunggu sampai kamu siap untuk keluar. Dan jika kamu sudah siap, peganglah tanganKu dan selamanya aku tidak akan melepaskanmu, kamu bisa mempercayaiKu untuk itu, Aku akan membawamu keluar dari sini. Jangan takut. Sebab kamu tidak akan pernah sendirian. Aku ada di sini…”
Dan entah kapan tepatnya, tapi aku akhirnya memberanikan diriku untuk meraih tangan Tuhan demi bangkit dari keputusasaanku, aku memegang tanganNya erat-erat dan dengan takut aku melangkah. Melalui kekelaman, melalui dinginnya malam, melalui rasa sakit demi rasa sakit. Sampai di suatu masa yang mencekam itu, samar-samar kulihat cahaya di ujung kegelapan. Aku memegang tanganNya semakin erat, lalu Dia tersenyum dan mengajakku berjalan lebih cepat, Ia mengencangkan pegangan tanganNya dan mulai membawaku berlari, dan berlari lebih kencang, menuju cahaya itu. Dan sepanjang kami berlari itu Dia terus mengatakan kepadaku, “Percayalah, Aku masih di sini, Aku memegangmu, kamu tidak akan jatuh, Aku ada di sini, percayalah padaKu, dan mari kita berlari ke cahaya itu!”
Hari ini, di pagi yang cerah ini, aku melihat diriku sendiri, berdiri di sini. Di tempat yang terang, sangat terang. Dan aku baru sadar, bahwa aku sudah di luar. Aku sudah di luar! Hey, aku sudah di luar gua kekelaman itu! Ternyata aku sudah keluar! Ah, aku baru sadar! Tapi jika kupikir-pikir, sepertinya aku memang sudah berada di luar, karena aku merasa sangat baik. Aku merasa ‘hidup’ kembali. Dan untuk pertama kalinya sejak saat itu, aku bisa mengatakan bahwa aku masih punya kesempatan untuk bahagia. Aku masih punya masa depan yang penuh harapan.
Aku sungguh bersyukur aku bisa berada di sini dan mengatakan bahwa hidupku indah, dan hidupku masih berlanjut, dan perjalananku belum akan berhenti dalam waktu dekat. Aku bersyukur bahwa aku bisa bangun di pagi hari dan tersenyum kepada Tuhan karena aku sungguh merasa bahagia. Aku bersyukur karena aku dapat kembali menari mengikuti alunan lagu Elvis Presley. Aku bersyukur karena aku dapat kembali menuliskan semua pemikiranku ke dalam kata-kata yang bermakna. Aku bersyukur karena meskipun hujan selalu mengguyurku sepulang kerja, aku tetap tersenyum atau bahkan tertawa. Aku bersyukur karena aku menemukan teman-teman lamaku dan ternyata mereka masih sama. Aku bersyukur, karena hal-hal yang sederhana. Aku bersyukur karena ternyata aku tidak kekurangan, tetapi justru berkelimpahan dengan sukacita. Dan jika aku dapat berada di sini dalam keadaan yang sangat baik ini, aku percaya bahwa semua itu semata-mata karena Tuhan. Tuhan yang tidak terlihat tetapi juga tidak terkalahkan. Yang terlalu besar untuk kuukur dengan logika. Tuhan yang mau mengotori jubahNya untuk duduk di gua yang lembab hanya supaya Aku tak merasa sendirian. Tuhan yang kemudian memegang tanganku dan membawaku keluar dari segala perasaan yang mencekam itu, dan yang tidak pernah meninggalkanku, walau sedetik pun tidak. Tuhan yang mendengar erangan kesedihanku, tapi tidak memarahiku atau dengan dingin mengatakan “Jangan menangis, aku tidak suka melihat orang yang menangis”. Malahan Ia berkata “Menangislah, menangislah sekeras-kerasnya, Aku mendengarmu, Aku menangis bersamamu, tetapi setelah itu bangkitlah, bangkitlah bersamaKu.”
Ia adalah Bapa yang baik. Ia mengijinkanku jatuh. Agar Ia dapat mengangkatku kembali. Agar Aku dapat mengenalNya lebih lagi dan lebih lagi memahami, bahwa Ia tetap tak terkalahkan bahkan oleh kesedihan atau kehilangan, oleh kedukaan, atau keputusasaan, karena atas semuanya itu Dia sudah menang.
Jadi kalau kamu hari ini benar-benar merasa berada di dalam gua yang paling kelam dalam hidupmu, Aku hanya dapat berkata, jangan takut, sebab, kamu tidak pernah benar-benar sendirian. Karena Tuhan ada di sana. Kamu mungkin tidak dapat melihatNya, tetapi Dia melihatmu. Dan Dia peduli. Dia sedang mengulurkan tanganNya sekarang. Dan jika kamu sudah siap, Dia sendiri yang akan membawamu keluar, dan tak akan melepaskanmu lagi untuk selamanya. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk kamu mengulurkan tangan…
*Dedicated to all my good friends, can't do it without you!^^*
Tuhan, aku baru sadar, aku tidak dapat melakukan semuanya sendiri.
Aku tidak dapat mengurus hal-hal yang kuhadapi sekarang sendirian, aku tidak dapat menghadapi orang-orang yang harus kuhadapi ini, sendirian.
Aku tidak memiliki pengetahuannya, dan aku tidak mempunyai kemampuannya. Aku melakukan terlalu banyak kesalahan, aku seringkali kehilangan diriku sendiri. Aku sungguh tidak seharusnya mendapat kepercayaan ini. Mungkin Tuhan terlalu tinggi menilai aku. Mungkin ekspektasi Tuhan terlalu besar kepadaku. Aku takut jika aku terus berusaha sendiri, maka sesuatu yang fatal akan terjadi, lalu aku akan menyalahkan diriku sendiri. Dan aku sudah cukup lelah berusaha berpikir secara rasional bahwa semua memang harus terjadi, dan tidak ada satu pun yang terjadi ini yang harus dibebankan kepadaku sebagai sebuah kesalahan, tetapi harus kuhadapi sebagai sebuah tantangan, dan harus kutaklukkan karena aku harus menang. Karena aku memang tidak punya pilihan. Aku harus menang. Itu satu-satunya pilihan.
Tapi aku tidak tahu caranya, ya Tuhan. Aku benar-benar tidak tahu caranya. Bagaimana melalui semua ini dengan tanpa rasa sakit. Tanpa kesalahan. Sempurna dengan nilai A. Karena aku tidak sempurna. Engkau melihat aku dengan jelas dari atas sana, betapa lemahnya dan tak berdayanya aku. Betapa kikuknya aku dalam beberapa hal, betapa tak berpengalamannya dan tak berpengetahuannya aku. Aku sudah menekan diriku untuk belajar, tapi aku tidak tahu apakah otakku cukup cepat menyerap semua pengajaran ini dalam waktu singkat. Aku memeras otak, berusaha tegar, memperpanjang batas kesabaran, tapi pada akhirnya, aku tetap ingin berteriak dan menangis sekeras-kerasnya. Aku tidak ingin orang mendengar. Aku hanya ingin Kau mendengar.
Waktu aku katakan aku tidak kuat, I mean it God. It is beyond my league. Aku harus mengejar untuk melakukan sesuatu yang dipelajari orang selama bertahun-tahun, dan aku harus menjadi mahir dalam beberapa hari. Demi kebaikan, sekali lagi, aku setuju denganMu, ini memang demi kebaikan. Tapi yang aku tidak yakin adalah waktu yang Engkau berikan. Aku tidak yakin itu masuk akal. Tapi lagi-lagi, bagaimana akalku dapat membatasi Engkau, yang melampaui segala akal?
Kau selalu membuatku melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, dan aku tidak menyalahkanMu untuk itu. Sebagai pribadi yang telah menjadikan dunia ini dengan segala keajaibannya, akal tentu bukan ukuran yang Kau pakai dalam menentukan rancangan-rancanganMu. Dan aku tahu Engkau lebih tahu aku daripada diriku sendiri. Sebab Engkau menjadikanku, dan bahkan pikiranku, semuanya dari padaMu. Jadi kalau saat ini Engkau menggunakan aku untuk sesuatu hal yang menurutMu baik, hey, I’m in 100%. There’s no argue in that part.
Dan, syukurlah, di akhir hari ini, dan di akhir segala kepenatanku ini, aku masih percaya Engkau tahu apa yang Kau lakukan. Aku tidak kehilangan keyakinan. Walau di dalam kepalaku sempat berkecamuk beraneka ragam keraguan. Ya, aku tahu, keragu-raguanku terhadap diriku sendiri hanya akan berarti aku meragukan Engkau. Aku cukup yakin Kau tidak begitu menyukai hal itu.
Hanya, aku harus mengakui di hadapanMu, terkadang aku tidak menguasai diriku sendiri. Aku tidak menguasai sekitarku… Dan aku sungguh tidak dapat melakukan semuanya sendiri.
Jadi hal terbaik –dan mungkin yang paling benar – yang dapat kulakukan saat ini, adalah memohon agar aku tidak menghadapi semua ini sendirian. Aku mohon, please be here God, please be by my side. Cause I can’t do it alone. That’s all I’m asking you. Yaaa, sebenarnya bukan itu saja. Lebih tepatnya, itu yang paling aku butuhkan saat ini. A company. A friend. Dalam segala jalanku. Karena aku tak ingin sendirian. Aku tak bisa sendirian. May God (Yes, I mean You, God) be with me.
Kala Wanita Percaya adalah judul buku yang aku tulis untuk para wanita Indonesia yang lagi berjuang untuk menggapai impian, untuk mereka yang lagi bertahan, atau bahkan yang lagi berada dalam tekanan. Buku ini merupakan rangkaian kisah nyata perjumpaan tiga orang wanita dengan Tuhan dan kuasaNya, yang telah menyelamatkan dan menuntun mereka pada perubahan dan kehidupan yang baru. Buku ini encourage kamu untuk nggak menyerah. Apapun yang terjadi. Apapun yang lagi kamu hadapi. Seperti apapun tertekannya kamu. Karena Tuhan juga nggak pernah give up on you.
Buku ini diterbitkan untuk semua wanita. Yang kaya, yang miskin, yang biasa-biasa, yang doyan browsing, yang nggak kenal internet, yang tinggal di ibu kota, yang berdiam di desa, yang berpendidikan tinggi, yang nggak terlalu tinggi, atau bahkan yang nggak makan sekolahan...., serta banyak lagi wanita dari berbagai kalangan yang ingin digapai oleh buku ini.
Buku ini juga udah siap dibundle dengan harga yang nggak mahal, supaya semua wanita yang butuh kekuatan bisa memilikinya. Jadi tunggu terbitnya buku berjudul Kala Wanita Percaya. Diterbitkan oleh Penerbit Andi Offset. hadir Juni 2008, di toko-toko buku di seluruh Indonesia.
Pernah pakai hot pants? Yup, celana ekstra pendek, yang maksudku, sangat pendek. Bukan-bukan, nggak sependek itu, lebih pendek lagi. Lagi, lagi, lebih ke atas lagi, ya, kira-kira segitu, beberapa centimeter di bawah underwear kamu. Pernah?
Syukur kalau belum. Nggak, aku nggak melarang kamu memakai itu. Hey, kamu perempuan, aku rasa, kamu berhak menampilkan bentuk tubuh yang memang masterpiece abadi ini. Tapi, apa kamu yakin, kamu tahu pasti tempat yang tepat untuk melakukannya? Bukannya nggak percaya, tapi sudah beberapa kali ini, seorang temen kantorku, "ngantor" dengan hot pants. Yup, "ngantor" maksudnya pergi ke kantor. Kerja. Kenapa dia melakukan itu? Honestly, aku bener-bener nggak tahu. Aku mencoba berpikir positif dengan mencari alasan-alasan yang positif... seperti misalnya, celana panjangnya lagi dicuci semua, dan karena ini musim ujan, jadi belum kering semua. Atau malah, belum ada yang nyuci baju karena pembantu pulang kampung belum balik juga. Atau bla bla bla, semakin aku berusaha mencari alasan, semakin aku nggak menemukan sejumput sebab positif sampai seorang memutuskan memakai hot pants ke kantornya. Temanku bertanya, "Memangnya itu kantor nggak ada HRD-nya? Nggak ada yang negur gitu? Atau nglarang?" Nggak ada-lah, kantor Advertising, di sebuah tempat kreatif, kamu bebas melakukan apa saja.Tapi, kamu bertanggung jawab atas tindakanmu sendiri. Buat aku itu cukup profesional. Semuanya kan kembali ke kita. Semua yang kita lakukan, sepenuhnya tanggung jawab kita. Aku rasa kebebasan inilah yang membuat orang jadi hilang akal. Bebas bisa berarti beban. Beban untuk bertanggung jawab atas kebebasan kita sendiri.
www.dictionary.com mendefinisikan hot pants sebagai very brief and tight-fitting shorts for women. Ada juga yang menyebutnya sebagai short shorts, atau kalau di-Indonesiakan bisa jadi, celana yang lebih pendek dari celana pendek... Ha ha ha... Yah, memang begitu penampilannya. Tapi yang bikin kaget adalah pengertian kedua, Hot Pants diartikan sebagai bahasa slang dari strong sexual desire; sexual arousal; a state of sexual arousal; horniness. Salah satu terjemahan malah menyebutkan Hot Pants sebagai vulgar slang. Atau kemungkinan besar, pelecehan. Oh My God. Aku sendiri nggak tahu kenapa terdorong buat nyari arti kata Hot Pants. Kebiasaan penulis mungkin. Awalnya cuma ingin tahu, di mana Hot Pants dipakai kalau di luar negeri. Tapi, aku menemukan ini. jadi coba kita teliti. Siapa yang paling sering mengalami sexual arousal? Jelas, kaum pria. jadi tebak siapa yang membangkitkan gairah seksual pria, yup, kaum wanita. Jadi kesimpulannya? Hot Pants bisa jadi cuma celana ekstra pendek. Tapi Hot Pants bisa jadi juga sebuah istilah pelecehan yang datang saat, mungkin, seseorang menggunakan Hot Pants. Dan bisa jadi dengan menggunakan Hot Pants seorang wanita akan membuat seorang pria yang melihatnya mengalami sexual arousal, dan percayalah, itu kemungkinan yang sangat beralasan. Pada akhirnya, syukur kalau cuma pelecehan (harassment), kalau kekerasan (abusement)?
Kembali ke temen kantorku itu. Dia pulang pergi naik bis lho... Oke kalau nggak naik bis, semisal abis gajian, mungkin agak mewah dikit, naik taksi. Menurut kamu apa yang ada di pikiran sopir bis, kernet, sopir taksi, dan para penumpang bis itu? Aku nggak tahu pasti, karena aku juga perempuan. Tapi, ini bayangannya, seorang temen kantorku dulu mengatakan kalau sebagai laki-laki, dia bisa melihat seorang wanita berpakaian lengkap, jadi telanjang bulat, dalam imajinasinya. Man, dia katakan itu sudah beberapa tahun yang lalu, tapi aku nggak bisa lupa. Persis seperti di film-film waktu seseorang dapat melihat tembus pandang sampai ke balik pakaian seorang wanita. Satu kejadian lagi, waktu itu aku lagi jalan-jalan di sebuah plasa yang cukup lumayan di Jakarta. Bukan Plasa murahan lah pokoknya. Tapi kemudian ada beberapa orang yang memang agak buta moral, sedang melihat ke atas, ke arah eskalator naik. Mereka melihat sesuatu sambil saling mendorong, tanpa melepaskan pandangan dari sesuatu yang aku pun jadi ingin tahu. Ternyata begitu aku melihat ke arah atas, Oh My God lagi, seorang wanita sedang bersama pacarnya, dan rok yang dipakainya, percayalah, aku nggak bohong, sangat pendek! Aku dapat melihat dengan jelas apa yang di balik rok itu.Kumpulan laki-laki itu tertawa-tawa sambil terus dorong-mendorong untuk mendapatkan sudut pandang yang tepat agar dapat menemukan keseluruhan misteri di balik rok seorang wanita. Tapi hatiku menangis. Apa yang terjadi dengan moral? Itu pertanyaanku, tapi jawaban mereka bisa-bisa: Moral? Apa itu moral? Perdebatan bisa sangat panjang untuk memutuskan siapa yang salah. Wanita yang salah menginterpretasikan kebebasan dan emansipasi, atau pria yang tidak dapat mengendalikan kehewaniannya?
Sebagai seorang wanita, jujur aku tak dapat menyalahkan pria.Karena wanita dianugerahi dengan kontrol lebih baik daripada pria. Wanita juga dianugerahi dengan kemuliaan lebih tinggi daripada pria. Jadi memang, beban untuk menjaga moral itu lebih berat ke wanita daripada pria.
Lisa Bevere, penulis Best Seller yang bukunya kuulas beberapa waktu lalu mengatakan yang intinya seperti ini, "kalau kamu mau berpakaian seperti pelacur nggak masalah, kalau kamu memang mau mendapatkan pria-pria yang melacur" Katanya lagi, "Jangan berharap mendapatkan pria-pria yang tepat dengan berpakaian yang tidak tepat."
Di sinilah, wanita kurang mengerti. Seumur hidup, wanita berusaha memperlihatkan sebagian (atau seluruh?) dari misteri di balik pakaiannya, hanya untuk mendapatkan perhatian pria-pria yang tepat yang mereka idamkan. Tapi kenyataannya, sebelum itu terjadi, ia sudah disakiti oleh pria-pria yang tidak tepat.Wanita bahkan mengalami luka yang dalam hanya untuk itu.
Jadi lupakan soal teman kantorku yang suka sekali mengenakan Hot Pants (entah berapa kali dalam seminggu). Lupakan juga tentang seorang wanita yang memutuskan untuk memakai rok yang lebih pendek dari underwearnya. Dan sejenak, hanya sejenak saja, lupakan tentang pendapat pria. Sekarang, kembalilah kepada suara hati yang paling dalam, ya, suara hati yang itu, yang sering kamu bilang membatasi kamu, suara yang sering mengingatkan kamu saat kamu melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Orang menyebutnya nurani. Aku menyebutNya Tuhan. Dan dalam kondisi ini, coba teliti kembali apa yang ingin kamu dapatkan melalui cara berpakaianmu? Pujian, kekaguman, rasa hormat, atau pelecehan? Percaya nggak percaya, itu tipis sekali perbedaannya. Yang jelas, pria-pria yang tepat tidak datang dari cara berpakaian yang salah.
Inilah saatnya untuk kembali memikirkan alasan-alasan dari tipisnya, dan pendeknya, dan sedikitnya kain, dan tidak proporsionalnya pakaian yang kamu beli. Apakah itu bermanfaat, apakah itu baik, dan terlebih, apakah itu mendatangkan dampak yang baik buat kehidupanmu, kamu yang memutuskan.
Akhirnya, perlu juga untuk kamu mengingat kembali begitu panjangnya, dan lebarnya, dan dalamnya kasih Tuhan untuk menyayangi kamu. Jangan sampai, Ia menyayangkan cara berpakaianmu.
Ini adalah salah satu seri Great Lives from God's Words karangan Charles Swindoll, dan satu-satunya seri yang membahas tentang seorang wanita. Tapi bahasan Charles Swindoll di sini sangat menyeluruh, sehingga meskipun aku terkenal sebagai orang yang suka membeli buku tapi jarang selesai membaca buku, aku dapat menyelesaikan buku ini! Karena buku ini sangat menarik. Sangat detil dalam membahas setiap langkah kehidupan Ester, sang tokoh utama. Dan jujur, aku belajar banyak dari sebuah buku, lebih banyak dari apa yang kudapatkan dari SD 6 tahun. atau SMP 3 tahun, atau SMU 3 tahun lagi. Yah, kalian mengerti maksudku, banyak! Charles Swindoll segera menjadi penulis idolaku karena ia mampu menegur dengan kasih tanpa mengesampingkan keadilan Allah. Charles Swindoll mengatakan dalam salah satu bukunya, "Kebenaran tanpa kasih sangat kejam, tapi kasih tanpa kebenaran juga merupakan sebuah ketidakadilan."
Buku ini menceritakan detil perjalanan hidup seorang wanita hebat bernama Ester. Berangkat dari wanita biasa menjadi seorang permaisuri raja. Ratu, atas sebuah kerajaan yang sangat besar. Lewat hikmat yang ia pelihara di dalam hatinya, ketaatan dan takut akan Tuhan, ia telah meletakkan dasar bagi wanita-wanita yang lain untuk sebuah kedudukan yang sepadan dengan pria. Keberaniannya, tekad, bahkan sikap diam yang ia lakukan, membuat sang Raja pun terkagum padanya. Raja Ahasyweros berkata "Katakan apapun yang kamu mau, bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu" Dan kalau menurut kalian setengah kerajaan itu kecil, kalian harus membaca ulang kitab Ester, karena pada saat itu, Raja Ahasyweros menguasai hampir seluruh dunia. Hingga pesta perayaan yang diadakannya berlangsung 6 bulan lamanya. 6 bulan! Pesta kawin selama 3 jam sudah jadi sangat membosankan. Bayangkan 6 bulan! Mungkin karena terlalu banyak orang yang harus diundang... Dan terlebih dari pada itu, sesungguhnya Ester menjadi bagian terpenting dari rencana besar Tuhan menyelamatkan umatNya dari kepunahan. Ada hal yang menarik di sini. Bagaimana kalau ternyata Ester tidak mau dipakai Tuhan? Ya, percaya tidak percaya, Tuhan dapat memakai wanita-wanita yang lain. Mordekhai, Ayah angkat Ester berkata kepada Ester sewaktu ia setengah menolak rencana Tuhan. "Kalau kamu nggak mau, percayalah pertolongan atas bangsa ini akan datang dari pihak lain." (Ester4:14) Atau dengan kata lain, Kalau kamu nggak mau, itu keputusanmu. Tuhan bisa pakai orang lain, wanita lain. Tapi apa benar kamu mau "nggak ikutan" dalam rencana Tuhan yang hebat ini, hanya karena kamu takut? Jadi, ikut atau nggak ikut rencana Tuhan itu keputusan kita sepenuhnya. Manusia diciptakan dengan kehendak bebas. Dan Tuhan tidak bilang kamu akan dihukum setelah itu. Tapi yang aku tahu, kalau Tuhan ijinkan, aku mau terlibat dalam rencana besarNya...
So, itu sebagian kecil dari yang aku temukan di dalam buku ini, dan untuk menemukan sebagian besar dan seluruhnya, kalian harus membaca sendiri setiap halaman dan menikmati pengertian-pengertian baru yang Tuhan bukakan untuk kita lewat Charles Swindoll.
Publisher Reviews: Everyone loves a transforming story. Rags to riches. Plain to beautiful. Weak to strong. Esther’s story is that, and much more. It is a thought-provoking study of God’s invisible hand, writing silently across the pages of human history. Perhaps most of all, it is an account of a godly woman with the courage, wisdom, and strength to block an evil plot, overthrow an arrogant killer, and replace with joy in thousands of Jewish homes. Through Esther’s courageous struggle to help her people, Swindoll explains the power of divine providence in volume 2 of the best-selling &"Great Lives&" series.
Temans, konsep blog ini adalah komsel online, jadi apapun yang kalian alami, we're here to help you. Sebenernya di sini bukan hanya akan ada aku, tapi juga teman-temanku, senior-seniorku. Mereka adalah orang-orang yang "tepat" yang aku ceritakan dulu. Mereka telah membuatku kembali kepada impianku. Sebenarnya, mereka menuntunku kepada Tuhan. Dan Tuhan menuntunku pada impianku yang hilang. Mereka juga akan membantu kamu. Mereka terdiri dari sarjana psikologi, sastra, dan komunikasi. Tapi terlebih dari itu, mereka adalah wanita-wanita Allah yang hebat, oleh penyertaan Roh Kudus.
Hey, apa kabar? Namaku Audrey. Dan coba tebak, aku seorang wanita! Well, aku bukan tipe wanita yang feminine, tapi aku memang seorang wanita. Tulen dari Allah. Aku benar-benar bangga mendapat kesempatan untuk menjadi spesies unik ini. Aku percaya kalian juga. Tapi ada masalah. Ya, ada masalah dengan kita, kaum wanita. Ada apa sebenarnya? O’o, jangan-jangan kalian belum tahu? Well, begini masalahnya. Hari-hari ini aku bertemu dengan banyak wanita, ya mereka seumuran aku, muda, beberapa di antara mereka cantik, beberapa sangat berbakat, yang lain, penuh potensi luar biasa. Tapi entah mengapa, ada sesuatu yang salah. Biar kujelaskan. Mereka terdiri dari dua golongan. Golongan pertama, wanita-wanita Allah, ya mereka yang sudah mengenal Allah. Hidup tidak bisa dibilang mudah buat mereka. Malah penuh tantangan. Yah, sederhana saja, ketika kita berasal dari Allah, dunia tidak akan dengan mudah menerima kita. Kenyataannya, dunia lebih sering menolak daripada menerima kita. Nah, tantangan itu terkadang sangat berat, mungkin terasa terlalu berat, sampai mereka kehilangan tujuan dan impiannya. Kehilangan rencana Tuhan. Dan itu buruk. Buruk sekali.
Okay, golongan kedua, well, tentu saja, wanita-wanita hebat yang belum mengenal Tuhan. Jangan salah, golongan ini kebanyakan berhasil dan berada di tempat yang tinggi. Kehidupan terasa mulus, tapi yah, mereka-mereka ini bukan hanya kehilangan rencana Tuhan, mereka sudah kehilangan dirinya sendiri. Dan sepertinya juga sudah kehilangan makna hidup. (Aku akan menjabarkan lebih banyak nanti tentang golongan ini).
Kedua golongan terpeleset. Keduanya terhilang. Beberapa wanita dari golongan pertama datang kepadaku dan menceritakan betapa mereka sangat tertekan dan kehilangan tujuan. Kehidupan tidak seperti yang mereka harapkan. Pada kenyataannya, mereka terjebak dalam kehidupan yang menyiksa, meremehkan keberadaan wanita, membatasi peranan wanita, atau mungkin kehidupan yang penuh pengkhianatan dari seorang pria. Beberapa dari mereka sudah melupakan impiannya, segelintir masih dapat bermimpi, tapi tak dapat menemukan jalan menuju impian itu. Sebagian besar dari mereka, bekerja, tapi bekerja pada lingkup pekerjaan yang salah. Bertemu dengan orang-orang yang salah, terintimidasi oleh pemimpin-pemimpin yang salah. Sehingga impian mereka untuk menjadi orang-orang yang besar, pupus begitu saja.
Aku ingin menolong mereka-mereka yang berada di golongan ini, aku tidak ingin mereka kehilangan impian dan rencana Tuhan, karena kerasnya kehidupan. Aku pernah mengalami kehidupan yang tidak mudah, dan kalau aku bisa sampai pada track yang benar sekarang (setidaknya kupikir begitu), semata-mata karena anugerah Tuhan dan karena aku bertemu dengan orang-orang yang tepat. Yang tidak mematikan impianku, tapi memberikan kekuatan dan pedoman, untuk aku melawan segala intimidasi akan ketidakberdayaan dan terus mengejar impian. Kini aku separuh jalan.
Sooner or later, aku percaya, kalian akan bertemu dengan orang-orang yang tepat. Karena Tuhan itu baik. Tapi I can’t help it. Aku ingin menjadi salah satu dari orang-orang yang tepat itu. Dan seijin Tuhan aku ingin mempercepat proses kalian dengan memberi tahu, berdasarkan hikmat dan pengalamanku dan wanita-wanita sebelum aku, serta teman-teman sepelayananku, apa yang harus kalian lakukan sekarang, kalau kalian sedang berada di tahap paling berat dalam hidup kalian saat ini. Tapi bukan berarti kalian yang berada di golongan kedua tidak menjadi kegundahanku. Kalian adalah kegundahanku yang terbesar. Aku ingin kalian mengenal Allah. Aku ingin, kalian menemukan diri kalian sendiri sebagai wanita yang penuh kemuliaan. Bukan wanita yang menjadi objek kekaguman seksual belaka. Kalian bukan alat pemuas kebutuhan seks pria. Meskipun nantinya, kita akan memuaskan kebutuhan seorang pria, suami kita. Tapi dalam perjalanan ke sana, kita hanya perlu benar-benar mengerti bagaimana mengendalikan sensualitas kita dengan sepenuh hati menjaga kekudusan.
Pada dasarnya blog ini dibuat untuk wanita-wanita yang merasa pendapat Allah itu penting. Kalau kalian ingin menggapai impian, dan benar-benar menjadi wanita yang sesuai dengan konsep semula ketika Allah menciptakan kita, wanita dengan kekuatan yang mulia, penuh kemuliaan, dan kebesaran, dan kehormatan, ini saatnya untuk memutuskan. Sekarang maju, atau selamanya tertinggal. Dan sejauh jangkauan blog ini, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu mengembalikan kita para wanita pada impian dan konsep brilian Tuhan tentang seorang wanita.
Di blog ini, kalian dapat menceritakan masalah kalian, apapun itu, kalau perlu jangan ungkapkan identitas kalian, tapi kalau kemuliaan Allah sedang terjadi dalam kehidupanmu, saksikan. Fokus utamaku saat ini adalah karir, tapi, kita dapat berbicara tentang apa saja. Toh, kita para wanita butuh bicara. Sayang, terkadang nggak ada yang mau dengar kita. Di sini kita boleh berteriak sekeras-kerasnya tentang isi hati yang terdalam sekaligus berharap ada yang mendengar kita. Aku berencana, akan membantu kalian yang terjebak dalam pekerjaan yang salah untuk mendapatkan pekerjaan yang benar. Mungkin dengan memberikan dukungan kekuatan, mungkin juga dalam bentuk lowongan. Yah, kita lihat saja. Semoga, banyak dari kalian yang akan dapat menemukan pekerjaan impian kalian lewat blog ini. Jadi katakan saja, apa karir impian kalian, dan siapa tahu, aku dapat menemukan perusahaan yang cocok. Nah wanita-wanita hebat, kini saatnya menyusun kekuatan!