
Ini sebuah review menarik tentang "Kala Wanita Percaya" dari seorang teman yang sangat saya kagumi:
Perjalanan hidup seseorang menurut saya adalah selalu menarik untuk disimak. Kita cuman bisa menjalani satu versi timeline kehidupan, dan dengan waktu yang berjalan kian cepat, belajar dari hidup yang kita alami sendiri kadang terasa begitu menguras waktu tersebut. Ini sebabnya saya selalu tertarik untuk belajar dari cerita hidup orang lain untuk paling tidak, bisa sedikit menambah dari sedikitnya hal2 yang harus saya alami sendiri.
Di lain pihak, mengungkapkan sebuah cerita hidup sendiri juga bukan merupakan sebuah hal yang mudah, apalagi jika cerita itu sedemikian berlikunya. Bercerita tentang kehidupan berantakan yang dialami adalah sebuah hal yang berat. Mengeluarkannya dari kepala dan mengubahnya menjadi tulisan adalah perjuangan, dan menerima reaksi dari pengeluaran itu, bahkan bila itu berupa hal positif seperti dorongan inspiratif, atau sekedar tepuk ringan di punggung, akan terasa begitu menyesakkan dada karena haru dan kadang membuat sumber air dimata tidak dapat menahan daya gravitasi alam.
Buku ini tentu saja bercerita tentang itu semua. Tentang 12 tahun perjuangan Audrey berjuang di tengah konflik keluarganya. Bagaimana Audrey dalam usia belasan tahun menjadi saksi dimulainya konflik ini, harus tetap menjalani masa2 remaja dengan penuh penolakan, berjuang menghadapi kehilangan sang Oma, satu dari dua wanita berpengaruh dalam hidupnya, harus terus menghadapi kerasnya sang Papa dalam segala hal, bahkan dalam satu fase terpenting dalam perkembangan sang anak, yaitu pendidikannya, dan tentu saja saat harus mengikuti roller coaster menyesakkan bersama wanita terdekatnya saat ini, sang Mama.
Audrey menyajikan semua hal itu dengan jalinan sentral dari hubungan 3 wanita beda generasi di keluarganya, Audrey, sang Mama, dan Omanya. Bagaimana perjuangan Oma untuk mendidik dengan cara memberi contoh langsung kepada kedua generasi wanita dibawahnya, sang anak dan cucunya ini untuk tak berhenti berjuang dan percaya, di tengah segala keruwetan yang dipicu oleh sang Papa, dan diwarnai dengan kondisi Oma sendiri yang telah berumur, juga kondisi Mama dengan begitu banyak penyakit dalam yang menderanya.
Namun serangkaian tanda kekuasaan sang Pencipta telah mampu membuat Audrey dan sang Mama tetap bertahan dan terus bangkit, yang pada akhirnya semua itu membuat kehidupan Audrey dan keluarganya semakin membaik. Dan 12 tahun dalam ombang ambing kerasnya kehidupan tentulah menjadi sebuah cerita hidup yang sungguh mampu memberikan banyak pelajaran dan mengangkat motivasi banyak orang yang mau membaca dan mendengarkannya. Audrey juga mampu menyajikan ceritanya dengan sederhana namun tetap bermakna dalam. 140 halaman buku kecil adalah ukuran yang reliable untuk masyarakat di sebuah negara dengan minat baca yang tidak terlalu tinggi. Ukurang tersebut juga sangat memungkinkan untuk dibaca berulang2 sesuai dengan pesannya sebagai sebuah cerita inspiratif bagi pembacanya.
So.
Audrey are my dearest friend...,
dan oleh sebab itulah meskipun fakta bahwa Audrey menulis sebuah buku bernafaskan keTuhanan Kristiani sesuai keyakinannnya tidaklah menghalagi saya untuk beli (yes..., aku beli loh..:P) dan baca bukunya..
dan saya begitu bangga dengan temen saya yang satu ini sekaligus ngiri karena dah bisa buat buku sementara saya cuman bisa ngereview doang..^_^
dan saya juga pengen minta maaf dengan tulus kalo saya pernah "berani-beraninya" ngasih nasehat yang mungkin gak mengena..
apa yang saya alami sepanjang hidup tidaklah sampe secuil dari apa yang kamu alami, so how dare me lecturing you how to live...
keep up the good work and the good life sis, dan buku berikutnya tak tungguin yah..~__^
Taken from:
http://zzet.multiply.com/reviews/item/46
Aku sedang tergila-gila pada sebuah serial televisi yang mengisahkan pengacara-pengacara paling top di Amerika, dan bagaimana skenario pembelaan yang mereka luncurkan demi menyelamatkan nama baik pihak-pihak tertentu. Salah satu skenario pembelaan yang paling terkenal dan paling sering digunakan adalah reasonable doubt atau keragu-raguan yang beralasan. Kalau kamu tidak punya bukti yang cukup, tidak punya saksi yang dapat dipertanggungjawabkan kesaksiannya, maka kamu tidak dapat menjatuhkan hukuman pada seseorang, betapa pun ia tampak bersalah. Sesederhana itu.
Lalu Tuhan mengingatkan aku, bagaimana hal ini juga berlaku dalam kehidupan. Tak terhitung panjangnya dan lebarnya dan banyaknya kita mudah berprasangka terhadap seseorang, hanya karena apa yang kelihatan dari luar atau berdasarkan opini mayoritas. Kalau yang lain begitu, yang ini pasti begitu. Begitulah pikiranmu mulai membangun penilaian-penilaian buruk terhadap orang lain, tanpa kamu punya bukti yang cukup, atau tanpa lebih duu mencoba untuk mengenal mereka lebih dalam. Guru sejarahmu seorang wanita setengah baya yang tidak bersuami, pasti galak. Nadia bertubuh pendek, pasti menjengkelkan. David berasal dari kota A, pasti pelit. Dina anak konglomerat, pasti sombong.
Pada akhirnya, seringkali pula terjadi, kamu salah. Ternyata Dina baik banget, boro-boro sombong, ia malah suka menolong. David malah suka traktir makan di kantin. Dan Guru Sejarah yang kamu takuti itu ternyata seorang wanita yang lemah lembut dan perhatian. Tapi pada saat itu, kamu sudah terlanjur menghakimi mereka dengan sikapmu yang tidak ramah dan cenderung menjauh. Pada saat kamu tahu kalau segenap prasangkamu itu salah, kamu sudah tidak punya kesempatan untuk berteman dengan mereka, karena mereka juga sudah balik berprasangka terhadap kamu. Prasangka menimbulkan prasangka. Kamu terlambat.
Jadi mengapa harus berprasangka kalau itu merugikan kamu nantinya? Semakin banyak kamu berprasangka semakin sedikit temanmu. Semakin banyak kamu berpikir positif tentang orang lain, semakin banyak orang akan berpikir positif tentang kamu. Lagipula, penghakiman itu hak mutlak Tuhan kan. Biarkan Tuhan melakukan bagianNya, sementara kamu lakukan bagianmu: tidak berprasangka, lebih baik lagi, berpikir positif tentang orang lain, mulai sekarang. Ya, mulai sekarang, setiap muncul prasangka terhadap orang lain dalam pikiranmu, ingat-ingat, kamu tidak pernah punya bukti yang cukup, kamu tidak mungkin punya saksi yang dapat dipertanggungjawabkan, reasonable doubt. Selalu ada alasan untuk meragukan prasangkamu.

Tentang Audrey:
Sarah Audrey Christie adalah lulusan Fakultas Desain Komunikasi Visual, Universitas Kristen Petra. Dia pernah memperoleh beberapa penghargaan, di antaranya: Juara pertama Inovasi Problem Kota dari Jawa Pos-IM3, Golden Purnawidya, dan Purnawidya Utama dari Universitas Kristen Petra. Selain sebagai Penulis dan Graphic Designer, Audrey juga bekerja sebagai penulis iklan (copywriter) untuk berbagai perusahaan periklanan (advertising) di Indonesia. Saat ini Audrey bekerja di TVN - Televisi Nusantara, Jakarta)
Tentang buku ini:
"Buku ini adalah sebuah pengharapan di tengah tidak adanya pengharapan. Seperti segelas air dingin yang sejuk bagi jiwa yang dahaga di padang gersang. Di tengah penolakan, penelantaran, penghinaan, pelecehan, dan ketidakpedulian, KRISTUS di dalam Audrey Christie, oma, dan mamanya menyanyikan lagu kemenangan, dan bukan ratapan. Sebagai Gembala dan pembina rohani mereka, saya percaya buku ini akan menjadi inspirasi dan kekuatan buat banyak wanita di tiga generasi. Bangkit!!!"
Pdt. Timotius Arifin Tedjasukmana - Gembala Senior GBI R.O.C.K.
"Meskipun buku ini lebih ditujukan untuk wanita, tetapi ketika saya membaca buku ini, saya sangat terinspirasi sekaligus terkagum-kagum. Audrey menuliskan kisah hidup pribadi dan keluarganya dengan sangat tajam dan menyentak! Saya rasa buku ini harus dibaca oleh siapapun, khususnya untuk setiap wanita yang ingin disentuh dan tenggelam dalam 'kekuatan yang mulia'."
'Josua' Iwan Wahyudi - Penulis, Trainer, Graphic Desainer, dan Host www.getyourwisdom.com
"Matahari selalu bersinar di balik awan yang kelam. Buku ini membuat Anda menangis dan bersyukur di saat bersamaan. Buku ini akan memberkati Anda, terutama para wanita. Woman, you are blessed and precious."
Maya Uniputty - Worship Leader
"Buku ini akan membuat Anda melihat keajaiban Tuhan. Di mana Tuhan dapat mengubah seseorang dari nothing menjadi something."
Eka Deli - Artis/ Penyanyi, Worship Leader

Apa yang terjadi jika seorang wanita benar-benar percaya?
Wanita dianugerahi Tuhan dengan potensi mujizat yang sangat besar -kekuatan yang mulia- sebuah potensi di mana melalui wanita-wanita, mujizat Allah terjadi dengan limpah. Masalahnya sekarang, wanita tak mudah menyadari -apalagi mempercayai- potensi tersebut karena keras kehidupan yang dialaminya. Seringkali tantangan dan tekanan membuat kita lebih percaya pada keterbatasan, daripada keajaiban. Tapi buku ini menceritakan sebaliknya. Bagaimana Tuhan mengajar 3 wanita -dari 3 jaman yang berbeda- untuk mempercayai Dia, bahwa Dia berkuasa dan kuasanya tak lekang oleh waktu dan peristiwa, bahwa sejak dulu, sekarang, hingga selamanya Ia tetap berkuasa melakukan apa yang tidak mampu dilakukan manusia. Dia berkuasa dan mujizatNya tetap nyata, meskipun dunia tidak menerima kita. Dan ketika kita benar-benar percaya, mujizat itu pasti terjadi dengan sendirinya!
Temukan dalam buku ini kisah nyata bagaimana mujizat-mujizat itu terjadi. Bagaimana Oma yang telah berusia 80-an tahun sembuh dari patah tulang siku tanpa disentuh pisau bedah, bagaimana Mama yang bahkan sempat divonis mati karena 7 macam penyakit sekaligus, sembuh total secara luar biasa. Bagaimana Sarah, yang dipersulit uang kuliah oleh sang Papa akhirnya lulus dengan nilai tugas akhir terbaik. Bagaimana sebuah kehancuran berubah menjadi kemuliaan, hanya karena kita percaya.
Semoga buku ini dapat memberkati Anda dan keluarga. Dan semoga semua wanita kembali mengenali potensi mujizat yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya.
Kalau Anda sedang tertekan, buku ini dapat membantu Anda menemukan kebebasan.
Kalau Anda sedang kurang percaya, buku ini dapat menuntun Anda untuk kembali menemukan iman.
Kalau Anda sedang putus asa, buku ini dapat membantu Anda untuk bangkit lagi.
Kalau Anda adalah seorang wanita, buku ini mengerti pergumulan Anda, dan dapat membantu Anda menemukan kembali impian-impian Anda yang terhilang, serta tidak melepasnya lagi.
Harga : Rp 24.000
Dapat dibeli di toko-toko buku pada umumnya.
Atau untuk pesan langsung (bebas biaya kirim) hubungi:
artfreax@yahoo.co.id atau YM: audrey_christie_aw@yahoo.com atau 0817334077
Impian, benar-benar sebuah media penyambung antara apa yang belum kita lihat dan apa yang ada di depan mata. Mimpi bergerak bersama-sama dengan iman. Mimpi membuat kita bertahan. Impian masa depan menambah kekuatan iman. Iman memampukan kita bertahan, meski terkadang, apa yang kita lihat, yang berlabel ‘kenyataan’, sungguh masih jauh dari apa yang kita lihat dalam hati dan pikiran. Tetapi impian juga telah membuat satu orang, bersama Tuhan, memutuskan untuk melakukan perubahan. Perubahan yang dulu cuma sekedar harapan tak terucapkan, kini ia selipkan dalam sebuah pidato pada kaum yang dipimpinnya. Impian itu sangat besar, begitu besarnya hingga hampir mustahil untuk dilakukan. Tapi toh, ia tak berhenti bermimpi, hingga akhirnya ia harus mati untuk membela impiannya. Orang itu adalah Martin Luther King Jr., dan ini adalah sepenggal pidatonya yang terkenal, I Have A Dream (Aku punya sebuah impian):
“…Kukatakan hari ini, sahabat-sahabatku, bahwa meskipun kita menghadapi berbagai kesulitan hari ini dan esok, aku masih punya impian. Ini adalah sebuah impian yang telah berakar dalam impian Amerika.
Aku punya sebuah impian bahwa suatu hari bangsa ini akan bangkit dan menghidupi makna sesungguhnya dari pernyataan: “Kami memegang kebenaran-kebenaran ini agar jelas bahwa semua manusia diciptakan sama.”
Aku punya sebuah impian bahwa suatu hari nanti di atas bukit merah Georgia, anak-anak dari mantan budak dan anak-anak dari mantan pemilik budak-budak akan bisa duduk bersama pada meja persaudaraan.
Aku punya sebuah impian bahwa suatu hari nanti bahkan Negara bagian Mississippi, Negara yang mendidih dengan panasnya ketidakadilan dan tirani, akan bertransformasi menjadi oasis kemerdekaan dan keadilan.
Aku punya sebuah impian bahwa empat anak-anakku akan suatu hari nanti hidup dalam suatu bangsa di mana mereka tidak akan dinilai berdasarkan warna kulit tapi oleh kualitas karakternya.
Aku punya sebuah impian hari ini.
Aku punya sebuah impian bahwa suatu hari ini, di Alabama sana, dengan sifat rasisnya yang kejam, dengan gubernurnya yang biasa dengan interposisi dan pembatalan undang-undang, suatu hari nanti tepat di Alabama, anak-anak kulit hitam perempuan dan laki-laki akan bergandengan tangan dengan anak-anak kulit putih laki-laki dan perempuan seperti layaknya saudara.
Aku punya sebuah impian hari ini.
Aku punya sebuah impian bahwa suatu hari nanti setiap lembah akan ditinggikan, setiap gunung akan ditundukkan, tanah yang bergelombang akan diratakan, yang berliku diluruskan, dan kemuliaan Tuhan akan dinyatakan, dan semua yang hidup akan menyaksikannya bersama.”
Impiannya, hari ini, telah menjadi kenyataan.
Terkadang Anda berhenti bermimpi, karena Anda tak percaya, atau karena Anda terlalu lelah untuk mempercayainya. Tapi ketahuilah, jarang ada impian yang tidak menjadi kenyataan kalau ia benar-benar dipelihara dengan iman dan perbuatan. Ya, ada perjuangan, ada pengorbanan, ada kesusahan, ada kesedihan, ada tangisan, ada keragu-raguan, ada kesendirian, ada keputusasaan yang harus kita tempuh dalam perjalanan menuju impian-impian kita, tapi kalau impian itu cukup besar, cukup mulia, cukup menakjubkan, maka impian itu cukup
berharga untuk dipertahankan, karena seperti kata Martin Luther King Jr., suatu hari nanti, dreams do come true.
"Jalankan terus gerakan ini. Gulirkan terus gerakan ini. Terlepas dari semua kesulitan yang harus dihadapi, dan kita akan menghadapi kesulitan lain lagi. Datanglah terus. Bergeraklah terus. Jika engkau tak bisa terbang, berlarilah. Jika engkau tak bisa berlari, berjalanlah. Jika tak mampu berjalan, merangkaklah. Yang penting, dengan segala cara, teruslah bergerak."
Stephen Levine, penulis terkenal, pernah menulis sebuah kutipan yang akhirnya menjadi populer:
“Kalau Anda mempunyai satu jam untuk hidup dan hanya dapat membuat satu panggilan telepon, siapa yang akan Anda telepon, apa yang akan Anda katakan, dan mengapa Anda menunggu saat seperti itu untuk mengatakannya?”
Richard Carlson, penulis seri terlaris “Don’t Sweat The Small Stuff” itu, tanpa kita ketahui, telah meninggal secara mendadak pada tahun 2006 karena Cardiac Arrest, semacam serangan jantung. Ia meninggal pada usia 45 tahun. Seorang istri yang setia dan 2 orang anak hancur hati dan tidak dapat membendung kesedihan karena kepergiannya yang mendadak. Apa hubungannya dengan kutipan Stephen Levine? Karena 3 tahun sebelum ia meninggal, Richard Carlson menulis sebuah perenungan tentang kutipan Stephen Levine itu, yang kemudian diberikan pada istrinya untuk memperingati ulang tahun pernikahan mereka yang ke-18. Ia menulis bahwa, kalau Ia hanya punya satu jam untuk hidup, ia tak kan menelepon pengacaranya, atau konsultan keuangannya, bankirnya, pialang sahamnya, karena uang sudah tak ada artinya pada saat-saat seperti itu. Semua kekayaan yang telah ia dapatkan tak sebanding, dengan keluarga, yang telah dititipkan Tuhan kepadanya. Sebab itulah, dalam satu jam terakhir kehidupannya itu ia akan menelepon istrinya, dan mengatakan betapa ia mencintai dia, Kristine. Dan kalau ia dapat mengulangi hidup bersama dengan istrinya sekali lagi, maka ia akan menjalaninya dengan penuh semangat. Ia juga bersyukur buat anak-anak, yang Tuhan berikan kepadanya, yang mengajarkan kepadanya tentang kehidupan, mungkin jauh lebih banyak dari semua tulisannya di-bundle jadi satu. Richard mengatakan “God was kind enough to share Jazzy and Kenna (anak-anaknya) with us (Richard dan istrinya).”
3 tahun kemudian, ia meninggal. Mengapa saya menulis tentang Richard Carlson? Karena inilah orang, yang dalam ketenaran, kekayaan, kehebatan, dan kebesaran namanya, bisa dengan mudah menyadari, arti hidup yang sesungguhnya. Dan tahu untuk menjalani setiap detik hidupnya dengan rasa syukur dan sukacita, dengan sepenuhnya menghargai setiap anugerah yang telah diletakkan Tuhan di pangkuannya.
Ia orang yang berhasil, dalam arti yang utuh. Sementara ada banyak orang yang hidupnya hampir seabad, tapi tidak punya hati dan sikap, dan rasa syukur sebesar Richard Carlson untuk menjalani hidup ini. Mari, hargai hidup ini lebih lagi. Isilah setiap hari dengan cinta, kebaikan, dan kualitas. And...Don’t Sweat The Small Stuff. But Do The Big Stuff. Jangan perkarakan masalah-masalah kecil, tapi lakukan perkara-perkara besar! •@•
Posted by
Sarah Audrey Christie
20.20
Ini masalahnya dengan kemenangan. Kamu harus terlebih dahulu mempunyai sikapnya, sebelum benar-benar meraih kemenangannya. Albert Einstein mengatakan, “Kamu nggak akan bisa menyelesaikan masalah dengan kemampuan yang kamu miliki pada saat membuat masalah tersebut.” (Duh, aku sangat suka dengan kata-kata Einstein itu). Jadi artinya, kamu harus memiliki kekuatan dan kemampuan yang melampaui masalahmu. Sama dengan kemenangan. Kemenangan adalah keberhasilan dalam memecahkan suatu masalah. Kamu harus memiliki sikap yang melampaui masalahmu, berarti kamu harus punya sikap pemenang sebelum benar-benar menjadi pemenang.
Begini ilustrasinya, anggap saja masalahmu adalah rivalmu dalam balap mobil Formula 1. Dia bergerak dengan kecepatan 200 km/ jam. Untuk menjadi pemenang, kamu harus bergerak melampaui dia, yang berarti kecepatan mobilmu harus lebih dari 200 km/ jam! Nah misalnya saja, dengan kecepatan 300 km/ jam, kamu akan melesat jauh melewati dia dan meraih kemenangan!
Itulah yang dimaksud oleh Einstein.
Dan ingat juga apa kata Tuhan, bahwa ia tidak akan mengijinkan masalah yang tidak dapat kamu tanggung. Jadi sepanjang Ia mengijinkan, maka Ia tahu, kalau kamu mampu mengalahkan masalah itu dan menjadi pemenang. Satu saja resepnya, milikilah sikap dan cara pandang seorang pemenang. Berjalanlah tegap. Berbesar hati. Jujur. Mengasih orang lain. Rendah hati. Dan terutama, TIDAK MENYERAH. Itulah sikap yang telah terbukti membuat banyak orang menjadi pemenang.