Senin, Agustus 24, 2009

Kelembutan Hati Seorang Wanita

Saat ia ingin berkata-kata, ia diam
Saat ia ingin marah, ia bersabar dalam keheningan
Saat ia ingin menangis, ia tertawa
Saat ia direndahkan, ia mengucap syukur
Saat ia ditinggalkan, ia menunggu untuk kembali
Saat ia dihina, ia mencinta
Saat ia disakiti, ia mengampuni
Saat ia ingin pergi, ia menunggu meski tak pasti
Saat ia ingin berhenti, ia berlari
Saat ia lelah, ia tak menyerah
Saat ia ragu-ragu, ia bertahan
Saat putus asa, ia berdoa

Wanita, lebih lembut daripada cinta
Mulia dalam ketidakmuliaan
Keindahan yang terasing bagai mutiara
Siapakah yang akan menemukannya?

Minggu, Agustus 23, 2009

Doa untuk Callista.

Aku berdoa untuk Callista,
Keponakanku yang pertama.
Agar saat malam tiba
Tuhan yang menimangnya
Menyanyikan lagu kemuliaan,
Menceritakan tentang kehidupan
Membisikkan nilai kebaikan
Memperkenalkan tentang cinta.

Dan saat pagi
Tuhan membangunkannya
Canda dan tawa Allah mencerahkan mata kecilnya
Malaikat-malaikat melagukan harmoni
Agar si kecil turut menyanyi
Tentang kebesaranNya yang tak terkira
Di atas bumi, terukir megah di cakrawala

Dan aku berdoa agar Callista
Dalam cengkeramanya dengan Bapa,
Lantas Bapa pun bercerita…
Tentang kebaikan, kebenaran, dan kasih, dan cinta,
Dan kami… yang terhilang dari memori.
Agar apa yang dihapuskan ditulis kembali.
Dalam kehidupannya, dalam kehidupannya.

Bapa sampaikanlah pada Callista,
Salam dari kami yang mencinta.
Kalau ia bahagia,
Kami bahagia.

Sabtu, Februari 07, 2009

Arti Kesabaran.

Kesabaran adalah kemampuan untuk menghadapi pengulangan, dan melaluinya.

Pengulangan sikap-sikap yang kurang menyenangkan, pengulangan waktu-waktu penantian, pengulangan cercaan dan hinaan, pengulangan ujian demi ujian, pengulangan masalah-masalah lama, pengulangan keragu-raguan dari orang-orang yang memandang kita sebelah mata. Pengulangan perlawanan orang-orang yang tak dapat menerima nasihat kita. Pengulangan pengkhianatan dari mereka yang menyayangi kita. Pengulangan kesalahan-kesalahan yang menyebalkan, pengulangan kegagalan dalam kehidupan, pengulangan kelalaian orang-orang yang kita harapkan tidak melakukannya. Pengulangan pilihan-pilihan yang salah. Pengulangan perjumpaan dengan orang-orang yang tidak menyenangkan. Pengulangan rasa lelah yang berkepanjangan. Pengulangan pengajaran Allah atas kebebalan kita. Pengulangan, meningkatkan kesabaran. Karena itu saya akan mengulangi nasihat saya dengan berulang... Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar. Sabar... Sabar......... Sabar. Pengulangan meningkatkan kesabaran.

Rabu, September 03, 2008

Mencintai Tuhan.

Hari-hari ini saya dipaksa untuk bertanya pada diri sendiri, mengapa seseorang yang awalnya begitu mencintai Tuhan, bisa dengan mudah luntur cintanya. Agar Anda mendapat gambaran yang jelas, tanda-tanda cinta yang luntur itu adalah karakter yang berubah, dari seorang yang begitu rendah hati menjadi seorang yang meng-aku-i diri sendiri. Dari seseorang yang mengutamakan Tuhan dalam segala sesuatu menjadi orang yang menomorduakan Tuhan. Dari seorang yang militan dalam Tuhan menjadi seorang yang bersikap seolah-olah Ia tak memiliki tempat dalam kehidupan. Saya bertanya-tanya. Saya sungguh bertanya-tanya.

Jawaban pertama yang Tuhan taruh dalam hati saya adalah, seperti semua orang bisa jatuh ke dalam selokan yang jelas-jelas ada di pinggir jalan, begitu pula semua orang bisa luntur cintanya kepada Tuhan. Semua orang. Jadi jangan terlalu lama heran melihat kemunduran orang lain, tapi berjaga-jagalah, agar kita tidak ikut-ikutan luntur-cinta terhadap Tuhan. Karena seperti halnya cinta itu menular, luntur-cinta terhadap Tuhan juga menular. Saya pribadi sangat takut jika saya sampai luntur-cinta terhadap Tuhan. Lebih takut daripada Tuhan luntur-cinta terhadap saya. Karena itu kemungkinannya kecil sekali, atau malah tidak mungkin terjadi. Tapi ketika kita luntur-cinta terhadap Tuhan, dalam sekejap, semua karakter yang telah dibangun Tuhan dengan sangat hati-hati bagai membangun sebuah menara kartu yang indah, runtuh dalam satu malam. Percayalah saya sedang melihat hal itu terjadi di sekitar saya. Orang-orang yang hebat itu, yang penuh urapan itu, runtuh, rata dengan tanah. Memang ada tanda-tanda. Fondasi yang mulai goyah, hati yang mulai enggan berjumpa dengan Tuhan, keakuan yang semakin kuat. Tapi jika Anda tidak melihat tanda-tanda itu dan melakukan sesuatu, keruntuhannya akan berlangsung seketika, tidak bertahap, tidak satu persatu, tapi seketika. Persis seperti waktu Tuhan mengangkat penyertaanNya dari Raja Saul. Berdoalah. Waspadalah. Luntur-cinta dapat menyerang siapapun. Virus ganas itu menanti di balik pintu keakuan Anda.

Jawaban kedua yang sangat kuat dalam hati saya adalah sebuah kalimat yang menyingkapkan pengertian, “Butuh iman untuk mencintai seseorang yang tidak dapat kamu lihat.”

Ya! Butuh iman untuk mencintai Tuhan. Mencintai manusia tidak membutuhkan iman. Mencintai sesama hanya butuh saling percaya, saling mendukung, saling peduli, dan saling-saling yang lain. Sementara mencintai lawan jenis, membutuhkan hasrat. Tetapi, mencintai Tuhan, membutuhkan iman.

Charles Swindoll dalam bukunya “ESTER” mengatakan bahwa Tuhan adalah ‘Yang Tak Kelihatan, tapi Yang Tak Terkalahkan’
Butuh iman untuk mempercayai bahwa ‘Pribadi’ yang tidak dapat kita lihat ini sangat mengasihi kita dan sedang melakukan yang terbaik untuk kita. Butuh iman. Iman. Iman. Saya harus mengulangi lagi, IMAN. Karena ketika iman itu hilang, Anda hanya melihat diri Anda sendiri. Saul memulai kesalahannya juga dari kehilangan imannya kepada Tuhan. Lalu Ia melihat diri sendiri; melihat keunggulannya dan menjadi tinggi hati, melihat kelemahannya dan merasa terancam. Anda tahu kelanjutannya. Roh Tuhan meninggalkan Saul. Ia ‘runtuh’.

Iman diterjemahkan sebagai ‘kepercayaan yang sempurna’ kepada Tuhan. Tetapi iman lebih tepat didefinisikan sebagai ‘penyerahan diri yang sempurna’. Anda tidak dapat percaya dengan sempurna kalau Anda tidak menyerahkan diri Anda secara sempurna kepada seseorang. Jadi kalau Anda mencintai Dia dengan penyerahan diri yang sempurna, niscaya, Anda tidak akan pernah luntur-cinta terhadap Tuhan. Sebab dalam penyerahan yang sempurna, Anda juga menyertakan ke-aku-an, kekhawatiran, harga diri, cita-cita, rencana, bahkan hidup Anda, ke dalam tanganNya. Jadi percayalah, jangan kawatir Tuhan tidak lagi mencintai Anda, karena Ia akan selalu mencintai Anda, tapi kawatirlah kalau Anda tidak lagi mencintai Tuhan, karena itu lebih mungkin terjadi, dan itu lebih menyeramkan. Ya, kejatuhan karakter. Itu sangat menyeramkan. •@•

Senin, Agustus 25, 2008

Khawatir?

Khawatir, khawatir… Siapa mau khawatir… Kalau dijual, khawatir mungkin jadi jualan paling laris di dunia. Penjualnya selalu pulang dengan tersenyum lebar. Dan keesokan hari, dia akan membawa lebih banyak lagi paket kekhawatiran untuk dijual pada Anda. Entah mengapa, kita selalu membelinya. Lalu kita terintimidasi olehnya, seperti kecanduan yang tak berakhir, sehingga akhirnya kita diperdaya oleh kekhawatiran kita sendiri. Lalu hari berikutnya, kita mendengar satu orang lagi melompat dari puncak gedung tinggi. Persis seperti rokok, kekhawatiran membunuh. Secara literal, dan mental.

Sebenarnya khawatir tidak selalu salah. Khawatir dapat berarti Anda menghormati Allah, karena Anda sadar bahwa Anda adalah manusia biasa yang tidak berdaya. Manusia yang kecil di hadapan Allah. Yang tidak selalu dapat mengatasi semua masalah dan menyelesaikan semua tantangan. Khawatir berarti, kita menyadari keterbatasan kita. Yang salah adalah, membeli kekhawatiran itu dan menyimpannya dalam pikiran kita. Yang kemudian mempengaruhi bagaimana Anda berpikir dan memutuskan sesuatu. Yang salah adalah, kalau kita tidak menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Yang salah adalah kalau kemudian kita dikendalikan olehnya bukan malah kita yang mengendalikannya. Yang benar seharusnya Anda mengendalikan kekhawatiran, menaklukkannya, lalu membuangnya ke tempat sampah, atau, menyerahkan ke dalam tangan Tuhan dan biar Ia yang membuangnya ke tempat sampah. Yang benar adalah, kalau si pedagang asongan yang licik itu mulai berteriak-teriak menjual sekeranjang penuh kekhawatiran yang ia bawa, Anda melewatinya. Nah yang lebih bagus lagi, adalah waktu melewati dia, Anda melemparinya dengan tomat sampai ia pulang dan tak berjualan lagi di hadapan Anda. Melemparinya dengan tomat? Ya, melawan kekhawatiran Anda dengan Firman! Ini contohnya:

Kalau Anda merasa semua tampak mustahil,
Tuhan bilang, tidak ada yang mustahil.
(Lukas 18:27)

Kalau Anda merasa Anda tidak dapat melakukannya,
Tuhan bilang, Anda bisa bersama Dia.
(Filipi 4:13)

Kalau Anda merasa Anda tidak memiliki kemampuan itu,
Tuhan bilang “Aku yang mampu.” (2 Korintus 9:8)

Kalau Anda merasa tidak ada yang mencintai Anda,
Tuhan bilang “Aku mencintai kamu.”
(Yohanes 3:16, 13:34)

Kalau Anda merasa terlalu lelah,
Tuhan bilang, Aku akan memberimu kelegaan.
(Matius 11:28-30)

Kalau Anda merasa Anda tidak cukup pintar,
Tuhan bilang, “Aku akan memberimu hikmat.”
(1 Korintus 1:30)

Kalau Anda merasa sendiri,
Tuhan bilang, “Aku tidak akan meninggalkan kamu atau melupakan kamu.”
(Ibrani 13:5)

Kalau Anda merasa tidak termaafkan,
Tuhan bilang, “Aku sudah mengampunimu.”
(1 Yohanes 1:9, Roma 8:1)

Nah, Anda mengerti kan sekarang? Jangan beli kekhawatiran dari si pedagang yang licik itu. Serang dia dengan Firman sampai dia benar-benar pergi dari kehidupan Anda. Dan tak kembali lagi selamanya.

Bible is not Bantal

Jadi begini ceritanya, sebelum Anda mulai bertanya-tanya ada apa antara bible dan bantal, ada penjelasan di baliknya. Mulai hari ini 'Women of Heaven' ingin menyajikan serial perenungan bertajuk 'Bible is...' atau 'Bible is not...'. Nah di 'Bible is/ is not' ini Bible/ Alkitab dibandingkan dengan segala sesuatu yang ada dalam kehidupan sehari-hari kita, baik itu tentang fungsi ataupun manfaatnya. Obrolan ini ringan-ringan saja, tapi bisa jadi bermanfaat untuk mengingatkan kealpaan manusia. Tujuannya agar dari perbandingan itu kita bisa belajar bagimana menerapkan dan memperlakukan Alkitab dalam kehidupan kita. Dan dari sana, kita dapat menyadari betapa pentingnya Alkitab, dan membaca Alkitab setiap saat, bagi kehidupan kita.

Kali ini, mari kita bahas hubungan yang sangat jauh sekali antara Bible dan Bantal. Meskipun diawali dengan huruf yang sama, tapi fungsinya jauh berbeda. Tetapi entah mengapa, mereka terkadang menjalankan profesi bersama. Yah maksudnya, ada juga orang yang enjoy menjadikan Bible sebagai bantal.... Untungnya tidak ada orang yang menjadikan bantal sebagai bible. Bisa gawat nanti. Bible/ Alkitab memang mendatangkan kedamaian, tapi bukan berarti bisa jadi alas tidur. Bisa juga mengembalikan kekuatan dan sukacita, tapi kalo cuma di letakkan di ujung rak buku sampai berdebu atau dibawah bantal (atau lebih parahnya, jadi bantal) untuk mendatangkan keberuntungan, rasa-rasanya peri gigi pun tak akan datang. (ingat kepercayaan meletakkan gigi yang copot di bawah bantal??)

Intinya, bible tidak akan berguna kalau tidak dibaca. Firman Allah memang berkuasa, tapi kitab yang menampungnya hanya akan menjadi buku biasa kalau Anda tidak membacanya. Jangan jadikan bible Anda alas tidur, maksudnya, jangan menjadikannya sesuatu yang tidak berharga dan melupakannya setiap kali Anda bangun dari tidur. Atau mungkin sekarang Alkitab Anda sedang meringkuk sendirian di pojok rak buku sambil berdebu... Ia menggigil kedinginan, sedih, karena Anda tidak pernah mengambilnya, membukanya, bahkan membaca Firman di dalamnya? Sampai-sampai ia minder karena setumpuk buku politik atau komik lebih populer di mata yang empunya? Ck ck ck....
Jika itu tengah terjadi saat ini, wahai saudara-saudari, bertobatlah. Karena hanya dengan membaca Firman, umatNya dipulihkan dan kuasa Allah dinyatakan. Hanya melalui FirmanNya, Anda dapat mengenal Dia lebih dalam dan mengetahui rencana-rencanaNya yang besar dalam hidup Anda. Tapi kalau Anda hanya menjadikannya bantal, untuk tidur di atasnya dan melupakan segera setelah bangun, hidup Anda pun akan seperti bantal, terlalu lunak dan lemah.

Jadi, lihatlah Alkitab Anda hari ini dengan pandangan yang penuh arti, serta ingatlah untuk membacanya, menurut kesadaran Anda sendiri, agar Anda diisi dengan Firman, bukan debu-debu jalanan. Sehingga Anda dipulihkan, dikuatkan, dan mendapat kemenangan.

Ada satu hal yang kita boleh belajar dari kita dan bantal. Kita selalu tidur di atas bantal, setiap hari, berjam-jam lamanya, tanpa terpaksa, tanpa dipaksa, bahkan terkadang kita merindukannya dengan sangat, sampai ingin memeluknya, mencium baunya, dan pergi tidur. Tidakkah Anda bisa merindukan Firman Allah lebih dari pada bantal?

Rabu, Agustus 20, 2008

Nenek Miskin yang Pintar.

Aku bertemu dengan seorang nenek pengemis yang sangat tua tadi pagi. Begitu tua hingga aku tak dapat menghitung berapa banyak garis kerutan di wajahnya. Ia jalan terbungkuk seakan tulang belakangnya sudah layu. Sekilas aku teringat sebuah iklan televisi. Lalu pikiranku kembali dari khayalan. Kembali kepada nenek tua itu. Sisi melankolisku tak tertahankan. Seperti bayi yang ingin keluar dari kandungan. Aku ingin memberikannya sedekah untuk kebahagiaan. Tapi ketika aku membuka pagar rumah tempat tinggalku demi menyampaikan niat baikku, ia menerobos masuk dan melalui badanku sambil berkata: "Aaah, mobil-mobilnya udah pada nggak ada semua ya..." sambil setengah melirik sedekah yang kuberikan. Astaga, nenek-nenek pun kalau mengemis pilih-pilih. Kalau yang bawa mobil pasti sedekahnya besar, begitu mungkin siasat nenek itu. Luar biasa, ilmu bisnis dan marketing memang mendunia. Pemikiran tentang target audience penting bagi nenek pengemis ini. Memilih orang yang tepat untuk dimintai uang. Mereka yang membawa mobil mendapat senyuman ramah dan mata memelas. Mereka yang berjalan kaki ia tak peduli. Uang seribu di tanganku langsung layu. Kehilangan semangat. Dan niat baik.