Selalu Bersamaku.

Posted by Sarah Audrey Christie , Rabu, Mei 04, 2011 20:52


Sedalamnya hatiku Kaupun tahu
dan kasih Mu tak jauh dalam jiwaku
Didalam kesesakan didalam kemenangan
Ku tahu Engkau selalu bersama ku

Sedalamnya hatiku Kaupun tahu
dan kasih Mu tak jauh dalam jiwaku
Didalam kesesakan didalam kemenangan
Ku tahu Engkau selalu bersama ku

Hanya Kau tempat ku berlindung
Hanya Engkau lagu ku dan kekuatan ku
Ijinkanlah kudatang menyembah membawa syukur ku

Sedalamnya hatiku Kaupun tahu
dan kasih Mu tak jauh dalam jiwaku
Didalam kesesakan didalam kemenangan
Ku tahu Engkau selalu bersama ku


Hari ini, aku mendengar lagu karya Sidney Mohede ini terputar lagi di ponselku, setelah beberapa lama aku tak mendengarnya. Dalam sekejap aku tahu, Tuhan ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Ia pun seakan-akan membawa memoriku kembali ke masa-masa itu. Masa-masa yang kelam, yang kupikir tidak dapat kulewati. Masa-masa ketika Mama meninggal di bulan Desember 2010.

Sudah lewat 4 bulan sejak Mama pergi untuk selamanya. Dan aku masih ingat benar, bagaimana rasanya, bagaimana sakitnya, dan bagaimana hancurnya hatiku pada saat itu. Dan bagaimana aku berpikir bahwa mungkin, aku tidak akan dapat melalui semua ini. Bahwa aku sebaiknya berhenti, menyerah, dan menutup mataku terhadap kenyataan yang terlalu menyakitkan.

Dalam kehampaan yang terasa begitu sepi itu aku berkali-kali bertanya mengapa ini harus terjadi, dan karena aku tidak memperoleh jawaban yang cukup masuk akal, maka berkali-kali pula aku mengatakan kepada Tuhan, “Bapa, jika aku gagal melalui semua ini, aku harap Kau mengerti. Mungkin memang aku tidak cukup kuat untuk hal-hal seperti ini. Mungkin kau salah memilihku untuk situasi ini”. Aku berkata bahwa aku tidak sanggup, karena memang pada saat itu, terlalu banyak rasa sakit yang mengikuti kepergian Mama. Terlalu banyak ‘gempa’ susulan yang mengikuti gempa pertama. Jadi aku pikir, ini terlalu besar untukku, dan aku kira aku tidak siap untuk hal-hal yang seperti ini. Pada saat itu, aku pun berpikir sederhana. Kelihatannya aku harus bersiap-siap tinggal dalam gua kekelaman ini untuk seterusnya. Aku sebaiknya tidak membuat rencana masa depan, karena mungkin aku akan terdampar di sini selamanya. Pada saat itu, sebatas itulah harapanku. Mataku dibutakan oleh kedukaan, sehingga aku tidak dapat melihat Tuhan. Harapanku terlalu kecil dan semakin kecil jika dibandingkan dengan Tuhan yang besar.

Aku masih ingat, bagaimana pada masa-masa itu, lagu inilah yang terputar terus di telingaku dan berulang bait demi baitnya di dalam hatiku. Dan setiap kali lagu ini dialunkan, setiap kali itu juga aku merasa Tuhan ada di sana bersamaku. Ia berlutut di tanah yang lembab lalu duduk di sebelahku di dalam gua yang kelam itu. Tanah yang basah mengotori jubahNya, tapi Ia tak begitu peduli. Ia mengangkat wajahku yang bersimbah air mata dan dengan lembut berkata, “Aku ada di sini, Anakku, Aku ada di sini. I hear you, and I am with You.  Karena itu kamu harus bisa, Aku tahu kamu bisa, karena Aku ada di sini. Aku tidak akan pergi, Aku akan duduk bersamamu di sini dan menunggu sampai kamu siap untuk keluar. Dan jika kamu sudah siap, peganglah tanganKu dan selamanya aku tidak akan melepaskanmu, kamu bisa mempercayaiKu untuk itu, Aku akan membawamu keluar dari sini. Jangan takut. Sebab kamu tidak akan pernah sendirian. Aku ada di sini…”

Dan entah kapan tepatnya, tapi aku akhirnya memberanikan diriku untuk meraih tangan Tuhan demi bangkit dari keputusasaanku, aku memegang tanganNya erat-erat dan dengan takut aku melangkah. Melalui kekelaman, melalui dinginnya malam, melalui rasa sakit demi rasa sakit. Sampai di suatu masa yang mencekam itu, samar-samar kulihat cahaya di ujung kegelapan. Aku memegang tanganNya semakin erat, lalu Dia tersenyum dan mengajakku berjalan lebih cepat, Ia mengencangkan pegangan tanganNya dan mulai membawaku berlari, dan berlari lebih kencang, menuju cahaya itu. Dan sepanjang kami berlari itu Dia terus mengatakan kepadaku, “Percayalah, Aku masih di sini, Aku memegangmu, kamu tidak akan jatuh, Aku ada di sini, percayalah padaKu, dan mari kita berlari ke cahaya itu!”

Hari ini, di pagi yang cerah ini, aku melihat diriku sendiri, berdiri di sini. Di tempat yang terang, sangat terang. Dan aku baru sadar, bahwa aku sudah di luar. Aku sudah di luar! Hey, aku sudah di luar gua kekelaman itu! Ternyata aku sudah keluar! Ah, aku baru sadar! Tapi jika kupikir-pikir, sepertinya aku memang sudah berada di luar, karena aku merasa sangat baik. Aku merasa ‘hidup’ kembali. Dan untuk pertama kalinya sejak saat itu, aku bisa mengatakan bahwa aku masih punya kesempatan untuk bahagia. Aku masih punya masa depan yang penuh harapan.

Aku sungguh bersyukur aku bisa berada di sini dan mengatakan bahwa hidupku indah, dan hidupku masih berlanjut, dan perjalananku belum akan berhenti dalam waktu dekat. Aku bersyukur bahwa aku bisa bangun di pagi hari dan tersenyum kepada Tuhan karena aku sungguh merasa bahagia. Aku bersyukur karena aku dapat kembali menari mengikuti alunan lagu Elvis Presley. Aku bersyukur karena aku dapat kembali menuliskan semua pemikiranku ke dalam kata-kata yang bermakna. Aku bersyukur karena meskipun hujan selalu mengguyurku sepulang kerja, aku tetap tersenyum atau bahkan tertawa. Aku bersyukur karena aku menemukan teman-teman lamaku dan ternyata mereka masih sama. Aku bersyukur, karena hal-hal yang sederhana. Aku bersyukur karena ternyata aku tidak kekurangan, tetapi justru berkelimpahan dengan sukacita. Dan jika aku dapat berada di sini dalam keadaan yang sangat baik ini, aku percaya bahwa semua itu semata-mata karena Tuhan. Tuhan yang tidak terlihat tetapi juga tidak terkalahkan. Yang terlalu besar untuk kuukur dengan logika. Tuhan yang mau mengotori jubahNya untuk duduk di gua yang lembab hanya supaya Aku tak merasa sendirian. Tuhan yang kemudian memegang tanganku dan membawaku keluar dari segala perasaan yang mencekam itu, dan yang tidak pernah meninggalkanku, walau sedetik pun tidak. Tuhan yang mendengar erangan kesedihanku, tapi tidak memarahiku atau dengan dingin mengatakan “Jangan menangis, aku tidak suka melihat orang yang menangis”. Malahan Ia berkata “Menangislah, menangislah sekeras-kerasnya, Aku mendengarmu, Aku menangis bersamamu, tetapi setelah itu bangkitlah, bangkitlah bersamaKu.”

Ia adalah Bapa yang baik. Ia mengijinkanku jatuh. Agar Ia dapat mengangkatku kembali. Agar Aku dapat mengenalNya lebih lagi dan lebih lagi memahami, bahwa Ia tetap tak terkalahkan bahkan oleh kesedihan atau kehilangan, oleh kedukaan, atau keputusasaan, karena atas semuanya itu Dia sudah menang.

Jadi kalau kamu hari ini benar-benar merasa berada di dalam gua yang paling kelam dalam hidupmu, Aku hanya dapat berkata, jangan takut, sebab, kamu tidak pernah benar-benar sendirian. Karena Tuhan ada di sana. Kamu mungkin tidak dapat melihatNya, tetapi Dia melihatmu. Dan Dia peduli. Dia sedang mengulurkan tanganNya sekarang. Dan jika kamu sudah siap, Dia sendiri yang akan membawamu keluar, dan tak akan melepaskanmu lagi untuk selamanya. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk kamu mengulurkan tangan…


*Dedicated to all my good friends, can't do it without you!^^*

Filosofi Benih dan Tanah.

Posted by Sarah Audrey Christie 20:47

Benih, jika ia jatuh ke tanah yang subur, ia akan tumbuh, meskipun ia tidak mendapatkan sinar matahari yang cukup, dan meskipun ia jarang disirami. Meskipun tak ada angin, atau lebah-lebah yang membantu penyerbukan. Ia akan tetap tumbuh, apapun yang terjadi. Karena ia adalah benih yang jatuh di tanah yang subur. Jadi ini adalah masalah tanah. Tanahnya memang subur. Masalahnya, kamu dapat saja menghalangi sinar matahari, atau memilih untuk tidak menyirami, dan kamu bisa mengusir lebah-lebah, tetapi kamu tidak bisa menghalangi benih-benih itu jatuh ke tanah yang subur. Paling tidak, angin cukup punya andil dalam hal ini. Dan kamu memang tidak dapat menghalangi angin. Jadi mungkin aku harus berterima kasih pada angin...

Aku Tidak Dapat Melakukannya Sendirian.

Posted by Sarah Audrey Christie 20:43

Tuhan, aku baru sadar, aku tidak dapat melakukan semuanya sendiri.

Aku tidak dapat mengurus hal-hal yang kuhadapi sekarang sendirian, aku tidak dapat menghadapi orang-orang yang harus kuhadapi ini, sendirian.

Aku tidak memiliki pengetahuannya, dan aku tidak mempunyai kemampuannya. Aku melakukan terlalu banyak kesalahan, aku seringkali kehilangan diriku sendiri. Aku sungguh tidak seharusnya mendapat kepercayaan ini. Mungkin Tuhan terlalu tinggi menilai aku. Mungkin ekspektasi Tuhan terlalu besar kepadaku. Aku takut jika aku terus berusaha sendiri, maka sesuatu yang fatal akan terjadi, lalu aku akan menyalahkan diriku sendiri. Dan aku sudah cukup lelah berusaha berpikir secara rasional bahwa semua memang harus terjadi, dan tidak ada satu pun yang terjadi ini yang harus dibebankan kepadaku sebagai sebuah kesalahan, tetapi harus kuhadapi sebagai sebuah tantangan, dan harus kutaklukkan karena aku harus menang. Karena aku memang tidak punya pilihan. Aku harus menang. Itu satu-satunya pilihan.



Tapi aku tidak tahu caranya, ya Tuhan. Aku benar-benar tidak tahu caranya. Bagaimana melalui semua ini dengan tanpa rasa sakit. Tanpa kesalahan. Sempurna dengan nilai A. Karena aku tidak sempurna. Engkau melihat aku dengan jelas dari atas sana, betapa lemahnya dan tak berdayanya aku. Betapa kikuknya aku dalam beberapa hal, betapa tak berpengalamannya dan tak berpengetahuannya aku. Aku sudah menekan diriku untuk belajar, tapi aku tidak tahu apakah otakku cukup cepat menyerap semua pengajaran ini dalam waktu singkat. Aku memeras otak, berusaha tegar, memperpanjang batas kesabaran, tapi pada akhirnya, aku tetap ingin berteriak dan menangis sekeras-kerasnya. Aku tidak ingin orang mendengar. Aku hanya ingin Kau mendengar.

Waktu aku katakan aku tidak kuat, I mean it God. It is beyond my league. Aku harus mengejar untuk melakukan sesuatu yang dipelajari orang selama bertahun-tahun, dan aku harus menjadi mahir dalam beberapa hari. Demi kebaikan, sekali lagi, aku setuju denganMu, ini memang demi kebaikan. Tapi yang aku tidak yakin adalah waktu yang Engkau berikan. Aku tidak yakin itu masuk akal. Tapi lagi-lagi, bagaimana akalku dapat membatasi Engkau, yang melampaui segala akal?

Kau selalu membuatku melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, dan aku tidak menyalahkanMu untuk itu. Sebagai pribadi yang telah menjadikan dunia ini dengan segala keajaibannya, akal tentu bukan ukuran yang Kau pakai dalam menentukan rancangan-rancanganMu. Dan aku tahu Engkau lebih tahu aku daripada diriku sendiri. Sebab Engkau menjadikanku, dan bahkan pikiranku, semuanya dari padaMu. Jadi kalau saat ini Engkau menggunakan aku untuk sesuatu hal yang menurutMu baik, hey, I’m in 100%. There’s no argue in that part.

Dan, syukurlah, di akhir hari ini, dan di akhir segala kepenatanku ini, aku masih percaya Engkau tahu apa yang Kau lakukan. Aku tidak kehilangan keyakinan. Walau di dalam kepalaku sempat berkecamuk beraneka ragam keraguan. Ya, aku tahu, keragu-raguanku terhadap diriku sendiri hanya akan berarti aku meragukan Engkau. Aku cukup yakin Kau tidak begitu menyukai hal itu.

Hanya, aku harus mengakui di hadapanMu, terkadang aku tidak menguasai diriku sendiri. Aku tidak menguasai sekitarku… Dan aku sungguh tidak dapat melakukan semuanya sendiri.

Jadi hal terbaik –dan mungkin yang paling benar – yang dapat kulakukan saat ini, adalah memohon agar aku tidak menghadapi semua ini sendirian. Aku mohon, please be here God, please be by my side. Cause I can’t do it alone. That’s all I’m asking you. Yaaa, sebenarnya bukan itu saja. Lebih tepatnya, itu yang paling aku butuhkan saat ini. A company. A friend. Dalam segala jalanku. Karena aku tak ingin sendirian. Aku tak bisa sendirian. May God (Yes, I mean You, God) be with me.

You are not forgotten.

Posted by Sarah Audrey Christie , Minggu, Oktober 10, 2010 00:46

Today I was amazed by God (again) and His restless love and care for me.
He said something that broke my heart into pieces and put it again altogether in the right place.

I was caught up with my self yesterday, that put me in a really bad mood, which I can say, lucky no one's there. But that's the problem at the beginning. No one's there! I was so fed up with my life and I needed someone to talk to, but no one's there. Everybody was conveniently busy with their own stuff. My brother was at work, my colleagues were nowhere within my reach, and the only best friend who would listen to me if she wasn't asleep, lives so far far away that I wish I could go there every time, but apparently I can't. So I made a short conclusion with unfortunately not much wisdom left, and I just shouted out loud: God, maybe you just don't love me anymore. How come you make me wait, for everything... Even for a friend? I was lucky that God Himself is love. He didn't send a large scary thunder to make His point to me. I think He just sat down at His throne and sighed.

Then like usually, whenever I am confused and not being myself, God put me to sleep, so deep, that I woke up late this morning. Sunday morning, that I can't afford to be late, because the church I've been going these past few weeks is a very very, and I mean very packed up church. I'm telling you, you can't be late if you want to go to this church, or you will end up sitting on the stairs, hearing the delayed voice of the priest from a 42" plasma TV. So there I was, so late, still confused, haven't finished my make up and haven't gotten the chance to fix my hair, and the clock's ticking like a time bomb.... then I said God, let me just stay home and cry. I don't want to sit on the church's stairs. Just let me stay home, okay. I'm sorry...... But the moment I went back to my bed to sit and cry, God said in my heart: Go. So I woke up, and rushed myself to find a cab. Why? Because I believe when He say something He mean it. I believed Him.

I arrived ten minutes later than I supposed to be, I ran and took the stairs and tried to beat everyone who's taking the elevator. And when I reached the 10th floor, with my heart beat still racing with my breath, getting ready to sit down outside the main room or on the stairs if I must, an usher called me and let me in, then inside, another usher called me and gave me the front seat. I mean the front seat! Where I can see the priest's face so clear that maybe I can see his pimple if I want (no, I'm just kidding, it's not that close...). I was about to sit and thank God for all that, when God shouted in my heart: "Now you tell Me I don't love you?!"
That moment, like I said earlier, my heart broke into pieces and pulled together right away to be put back in the right place. Everything that was wrong in my heart was fixed, and I got myself back, a one loved human being, God's own child, the apple of God's eye. And I realized, that I was not being myself these two days, I was letting myself go with what satan said about me. It's all him who said that I wasn't loved. It's him who told me that God forgot about me. And I was being stupid when I believed all those lies.

At the end of the sermon, the priest asked us to open Jeremiah chapter 1 verse 5 that said, "before I shaped you in the womb, I knew all about you. Before you saw the light of day, I had holy plans for you..."
You see, that is how much God loves us. He knew all about us since there is none of us yet. He had plans for us, even before we're able to make our own plans. So when He loves us that much, it is purely impossible to forget about us.

Now I don't know where you are, and what happened with you. Maybe you're fed up with life just like I was yesterday, maybe your friends were busy and you feel very lonely, and maybe it's so hard for you to understand why this or that is happening to you, and maybe you begin to think that God doesn't love you anymore. If it did cross your mind today, let me suggest that you sit down and pray. Imagine Him holding your hands, and imagine you look Him in the eye. And look again deeper in the realm of your spirit, take your time to calm down... And I bet, you will see, that He has nothing but love for you. Because that is Him. He can only love. And to Him, you are His everything. He had beautiful plans for you. For He loves you more than you love yourself. You have to remember that. So you wouldn't let satan's lies take away your joy and faith.

Then go to sleep. I think it helps. ^^

Sometimes it's not about what I want.

Posted by Sarah Audrey Christie , Senin, September 06, 2010 09:52

I wanted a room, where everything is mine, but if I only have a desk and a chair, then it's going to be fine. I wanted new things all the way, but old things work better anyway. I wanted to be heard by people, and no one did, but God heard me, and more than those people, He actually did something, and make a difference. I wanted to be able to solve all my problems, and turned out that I couldn't, but just in time, God took over everything and everything is solved, in ways I can't think of...
I wanted freedom, but I got stuck in a place where freedom is as rare as seeing mars with bare eyes... but you know what, it doesn't seem to limit my ability to speak, and to think, and to walk, and to learn and to do good things, so it doesn't matter.

I wanted a lot of things but a lot of things isn't always the answer. Sometimes the answer is in the smallest thing, if I remember to always give thanks in the end of the day.

Hidup yang Besar.

Posted by Sarah Audrey Christie , Minggu, Juli 18, 2010 10:53

Aku telah mengatakannya dan hari ini aku akan mengatakannya lagi... Ada hidup yang 'besar' menunggu kita. Kita, maksudnya, aku, kamu, dan semuanya... Tidak terkecuali. Tidak pilih-pilih. Kita. Setiap pribadi, direncanakan Allah untuk menjadi besar. Masalahnya cuma satu, ada prosesnya. Dan ada caranya. Dan terlebih dari itu, kita, pelakunya. Yang kita lakukan, pada akhirnya akan menentukan apakah rencana 'besar' itu terwujud atau tidak dalam kehidupan sesungguhnya. Respon kita pada proses, itu yang akan menentukan kehidupan seperti apa yang terjadi di depan. Dan hari ini aku belajar banyak dari sesuatu yang sederhana, dari orang yang tak terlalu kukenal, dan dari jauh, dari tangga sebuah gereja. Ya, aku tak mendapat bangku, jadi aku duduk di tangga di luar ruangan tempat ibadah sesungguhnya sedang berlangsung, mencoba menyelami ibadah dengan bantuan layar plasma dan suara speaker yang kadang ada kadang tiada... Well, aku tidak bersedih untuk itu, aku percaya setia dalam perkara kecil akan diberikan perkara besar, setia di tangga, suatu hari akan naik ke panggung... Lohhh? Bukan berarti aku mau setia di tangga... Perut yang bermasalah membuatku harus puas duduk di tangga untuk pertama kalinya dalam sejarah aku mengunjungi gereja yang selalu penuh sesak ini...

Tapi cukup tentang mengapa aku duduk di tangga. Mari kita ke masalah utama. Alasan utama aku menulis tulisan ini. Pesan yang disampaikan Pastor sangat bagus, tapi justru 4 menit terakhir yang paling menyentuh hatiku. Yaitu waktu aku melihat video rekaman saat Sidney Mohede bersanding dengan Israel Houghton di panggung akbar Hillsong Conference. Video itu sukses membangkitkan kembali adrenalin di dalam hasratku. Jika kamu belum pernah mendengar tentang dia, Israel Houghton adalah seorang peraih Grammy Award, salah satu penyanyi gospel terbaik di jaman ini. Dan sekilas aku ingin kalian tahu, bahwa dia pun bermula dari masa lalu yang tak dapat dibanggakan... Tapi dia (Tuhan sebenarnya, dia hanya 'follow the plan and the guidance of the Planner') mengubah masa lalu menjadi masa depan penuh harapan... Dan kemuliaan bagi Tuhan. Lalu selanjutnya, aku berharap kalian sudah kenal Sidney Mohede... Salah satu tokoh musisi rohani Indonesia yang semakin populer saat ini. Tidak banyak yang aku tahu tentang dia, meski demikian, aku banyak mendengar tentang ketekunannya dalam berkarya bagi Tuhan. Bahkan menurut cerita seorang kawan, ketika yang lain mulai menyerah, Sidney tidak. Aku sendiri sebenarnya pernah melihat dia sekali di kota Surabaya, sebelum ia setenar sekarang, dan yang kutangkap saat itu adalah kerendahan hatinya... Dan itu masih kulihat sampai sekarang... Aku percaya itu juga yang membawanya kepada kehidupan yang 'sebesar' sekarang, sebagai penyanyi rohani Indonesia, dapat berdiri sepanggung dengan idola kebanyakan penyanyi rohani Indonesia, dan bahkan menyanyi bersama peraih penghargaan Grammy ini... Membuatku ingin berteriak keras-keras... Sidney, seeing how God lifts you up, I bet you are the next Grammy Award winner!

Sekali lagi, kehidupan yang 'besar' itu tak hanya akan terjadi pada seorang Sidney Mohede, karena Ia telah merancangnya bagi kita semua, dalam porsi, kesempatan, dan waktu yang berbeda. Tetapi arahnya sama. Ke atas. Ke atas berarti terus naik dan bukan turun, ke atas juga berarti, apapun kehidupan itu, hanya diperuntukkan bagi kemuliaanNya.

Namun belajar dari Sidney Mohede, ada satu hal yang pasti dibutuhkan dalam perjalanan kita mencapai kehidupan yang 'besar' itu.... Dan itu adalah kesetiaan. Sidney setia ketika ia belum menjadi siapa-siapa, ia setia ketika popularitasnya meningkat tajam, sehingga ia menjadi salah satu selebritis Kristen paling dipuja di Indonesia, ia setia ketika Tuhan meletakkan dia di atas sebagai pemimpin, dia setia ketika Tuhan mulai membawa popularitasnya melampaui Indonesia. Ia setia, waktu ia telah dikenal oleh beberapa musisi kelas dunia. Dan karena ia setia, ia dibawa terus naik, melebar, semakin dalam, semakin besar.

Selanjutnya, kesetiaan hanya dapat diuji dengan waktu... Aku bertemu pertama dengan Sidney mungkin sekitar 10 tahun yang lalu... Dan aku mengagumi kesetiaannya hingga saat ini. Melalui masa-masa yang sulit, ia tetap setia kepada Tuhan. Kesetiaan yang teruji dengan waktu ini sama dengan kesetiaan Daud mulai dari ketika ia menerima janji Allah bahwa ia akan menjadi raja atas Israel, sampai ia benar-benar menjadi raja atas Israel, yang mana itu memakan waktu yang tidak sebentar. Dan dalam waktu tersebut, ia harus menghadapi hidup yang bagai mimpi buruk. Dikejar-kejar untuk dibunuh oleh Saul salah satunya, bukan kehidupan yang ia harapkan sebagai calon raja. Tapi toh Daud setia... Kesetiaan yang sama juga ada pada Yusuf, sejak dari ia menerima mimpi hingga waktu Ia boleh benar-benar menghidupi mimpi tersebut, makan waktu yang sangat panjang dan melelahkan, serta proses yang mungkin membuatnya berpikir lebih baik mati di sumur waktu itu... Ketika kakak-kakaknya membuang dia. Tapi Yusuf setia, dan Ia pun mendapat anugerah atas kesetiaannya. 'Kebesaran' yang jauh lebih besar dari yang dapat ia bayangkan.

Jadi? Tidak sulit kan untuk mencapai kehidupan yang 'besar'. Hanya butuh satu hal yang harus kita lakukan terus menerus tanpa henti, kesetiaan. Setia pada Bapa yang telah berencana, setia pada apapun yang telah dipercayakan kepada kita untuk kita lakukan sekarang, setia pada waktu yang disediakan bagi kita. Jangan mencari jalan pintas yang tak bertanggung jawab, jangan mencari mesin waktu. Nikmati saja prosesnya. Dan belajarlah untuk setia, hanya itu... Mudah kan...? Aku bohong. Itu sulitnya minta ampun. Aku mengalaminya. Dan aku berkali-kali menyatakan aku menyerah. Tidak sanggup. Mau mundur saja. Tapi satu hal menohokku hari ini... Sebuah video amatir yang memperlihatkan bagaimana Sidney Mohede tampil bersama Israel Houghton di atas panggung internasional Hillsong Conference. Hari ini juga aku mencabut semua kata-kata menyerah yang pernah aku ucapkan. Karena aku percaya, aku sedang berada di jalan menuju kehidupan yang besar seperti Sidney Mohede. Dan tidak ada alasan untuk menyerah. Aku memiliki Tuhan yang besar. Dan aku sudah setengah jalan. Aku tidak dapat kembali ke titik awal. Yang bisa aku lakukan hanya maju terus dengan setia. Suatu hari kehidupan yang besar itu akan tiba tepat di depan bola mataku. Ya, aku tahu, jalan yang harus kulalui ke sana mungkin berkerikil, naik, turun, berlubang bahkan, dan sepertinya banyak rambu-rambu yang menipu. Juga banyak sekali casino yang menggoda kita untuk berhenti dan bermain-main, mempertaruhkan segala sesuatu yang telah kita kumpulkan sehingga kita harus mulai dari nol lagi...(Jangan masuk ke casino-casino itu!). Tapi ada satu kendaraan yang akan membuatku dapat melalui jalan itu, namanya kesetiaan. Tetaplah setia seperti Daud, Yusuf, dan Sidney. Dan siap-siap dikejutkan dengan sebuah kehidupan yang besar!

Ketika kita tidak setia, Tuhan setia. Ketika kita setia, Tuhan jauh lebih dari setia. Ia mewujudkan impian kita.

The Little White Pig and The New Farm.

Posted by Sarah Audrey Christie , Selasa, Juni 22, 2010 08:22

Little White Pig : Hi God…
God : Oh hi, my little white pig… How are you? Are you doin’ fine?
Little White Pig : yeah, I think so… It’s been quite long since I really have a conversation with You. I’m sorry..
God : You are forgiven. See, piggy, I know you’ve been busy. I guess it’s good to be busy, rather than have nothing to do. But…
Little White Pig : But…?
God : But, no matter how busy you are. Don’t forget your priority.
Little White Pig : Ya, I know… Sometimes I forget my priority.
God : Yup, like talking to me, no matter small things or big things, it doesn’t matter. What matters to me is meeting you. You are my daughter you know. I can’t imagine one day not seeing you… or hearing your voice.
Little White Pig : Wow, you are a very romantic person…
God : Of course! I create romance…
Little White Pig : Thank You God.
God : What for?
Little White Pig : For everything. For a life. A good one actually. And when I say good it doesn’t mean easy, but it’s good.
God : Nothing is easy. But everything is possible… remember? You have me.
Little White Pig : Yup! That I know for sure.
God : Thank God.Oh I mean, thank Me.

Little White Pig : Hahaha, ya thank You. And God thank You for another new farm for me. It’s big and fine place to stay. Though I’m a bit unsure of how long this place would stand. I can’t see anything yet. But I know I will be safe with you. You have provided me with a life I can be proud of. I know I haven’t seen it all. But I will. I know I will. Your promises never fail. What You say is what You do. I don’t know when. And actually, I have no idea how. But I know it will happen. I just have to be patient, and strong, and trustworthy for You to use me.

God : Piggy, I can see that you are strong enough to wait. Remember what your Papa Bear said few days ago right, I can make anything happen, and I will, for my promises are true. But if I make it all happen now, are you sure you can handle it all right like the way we want it? That’s most important. To handle it right. I want you to be ready. And I’m serious about this. You don’t need to worry, when the time comes, everything will be added to you. Every single thing. You have my word. You know you do.

Little White Pig : Yes God! Please guide me through it. I need You.
God : Everything will be alright dear… I am God. What could possibly happen to a daughter of God?! I bet, only the good things. Only the good things will happen to my children.

Little White Pig : Alright! You’re the Man, God! You’re the Man! I am really happy I can talk to You today.

God : Talk to me every day. I will be right here waiting for you.
Little White Pig : Is that a song?
God : Yeah well, I made it in Heaven, but then I want you to sing it too. So I told Bryan the song, it’s Bryan right? his name? son of Adams?
Little White Pig : Yeah, hahaha, I think so. OK then, I’ll see You soon, God. I will miss You during the day.
God : I will always be with you. Just talk to me in your heart. I’ll hear every word you said.

Little White Pig : Thank You. Bye…
God : Be good. IBU.
Little White Pig : What’s that? IBU?
God : I bless you. ha ha ha… You guys like abbreviations right. GBU, JBU…
Little White PIg : ha ha ha thank you God. See you soon.